Huruf yang jarang disebut atau hilang dalam bahasa Sunda (asimilasi)

4 Huruf yang Jarang Disebut (Hilang) dalam Bahasa Sunda

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Orang Sunda kalau berbicara sangat mudah dikenali identitas kesundaannya. “Pasti orang Sunda nih…!”

Selain aksennya yang khas, orang Sunda juga dikenal ‘suka menghilangkan’ huruf-huruf tertentu dalam kata ketika berbicara. Contohnya, gambar dibaca gamar, sendal dibaca senal, anggur dibaca angur, banjir dibaca banyir dan sebagainya.

Kata ‘gambar’ bisa dibaca gambar, bisa juga dibaca gamar. Namun pada umumnya, orang Sunda lebih banyak yang membaca gamar.

Cara orang Sunda melafalkan kata tertentu yang seolah-olah menghilangkan huruf /b/, /d/, dan /g/, atau /j/ berubah jadi /ny/ jangan dianggap salah.

Dalam tatabasa Sunda dikenal istilah rinéka sora, yaitu gejala fonologis terkait perubahan suara basa, baik suara vokal maupun konsonan. Rinéka sora sendiri banyak macamnya, salah tiganya asimilasi, bagentén dan sirnaan.

Asimilasi adalah rinéka sora yang dibentuk dengan cara menyamakan fonem yang berbeda terhadap fonem di belakangnya. Yang termasuk asimilasi dalam bahasa Sunda di antaranya /b/ dan /m/, /d/ dan /n/, serta /g/ dan /ng/.

Bagentén ialah bergantinya satu fonem dengan fonem lainnya, baik vokal dengan vokal maupun konsonan dengan konsonan. Contohnya kata belas berubah menjadi welas.

Sirnaan artinya rinéka sora yang dibentuk dengan cara menghilangkan sebagian fonem dari kata, baik di awal kata (sirnapurwa), di tengah kata (sirnamadya), dan di akhir kata (sirnawekas). Contohnya, banderol jadi banrol (sirnawekas).

Huruf-huruf yang jarang disebut (hilang) dalam pengucapan kata oleh orang Sunda atau menurut tatabasa Sunda disebut asimilasi adalah sebagai berikut.

1 Huruf B

Suara huruf B hilang dalam kata setelah huruf M. Bunyi vokal setelah B dibaca bulat (tidak sengau). Contoh:

DitulisDibacaArtinya
kembangkemangbunga
dombadomadomba
émbérémérember
jambéjamépinang
ambekamekmarah
ambeuameucium
Dayang SumbiDayang SumiDayang Sumbi (tokoh dalam cerita Sangkuriang)
KosambiKosamiKosambi (nama tempat di Bandung)
témboktémoktembok
cau amboncau amonpisang Ambon
jambujamujambu
pangambungpangamunghidung

2 Huruf D

Suara huruf D hilang dalam kata setelah huruf N. Bunyi huruf vokal setelah D dibaca bulat (tidak sengau). Contoh:

DitulisDibacaArtinya
SundasunaSunda
BelandaBelanaBelanda
sendalsenalsandal
tundatunasimpan
CimandéCimanéCimande
kondékonékonde
bandengbanengbandeng
teundeunteuneunsimpan
andilanilandil
mandimanimandi
pondokponokpendek
endogenogtelur
sendoksenoksendok
andukanukhanduk
BandungBanungBandung

3 Huruf G

Suara huruf G hilang dalam kata setelah NG. Bunyi vokal setelah G dibaca bulat (tidak sengau). Contohnya:

DitulisDibacaArtinya
banggabangasusah, sulit
tanggatangatangga
manggamangasilakan
anggéangépakai
anggerangertetap, tidak berubah
anggeusangeusselesai
enggeusengeusselesai
tatanggitatangitetangga
anggoangopakai
angguranguranggur
sanggupsangupsanggup

4 Huruf J

Suara huruf J berubah menjadi NY setelah huruf N. Bunyi huruf vokal setelah J dibaca bulat (tidak sengau). Contohnya:

DitulisDibacaArtinya
panjangpanyangpanjang
lenjanglenyangsemampai
nanjaknanyaknanjak
génjérgényérgenjer
panjerpanyeruang muka
ganjelganyelganjal
anjeunanyeunanda
anjinganyinganjing
énjingényingbesok
banjirbanyirbanjir
tonjoktonyokpukul
CianjurCianyurCianjur

Cara membaca atau menyebut kata-kata pada contoh di atas bukan suatu keharusan. Perubahan suara tidak akan mengubah makna, yang penting menulisnya jangan salah. Misalnya kata sendal, mau dibaca sendal atau senal artinya tetap sandal.

Baca juga: Rinéka Sora Bahasa Sunda

Demikianlah, semoga bermanfaat.