Prinsip Tatakrama Bahasa Sunda

6 Prinsip Tatakrama Bahasa Sunda dan Contoh Kalimatnya

2 Dilihat

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Saling menghormati dan saling menghargai saat berkomunikasi merupakan suatu kebaikan. Tatakrama basa atau sopan santun memakai bahasa ketika berkomunikasi disebut undak usuk basa.

Undak usuk basa jadi suatu sistem menggunakan ragam bahasa (tingkatan bahasa) hormat dan tidak hormat. Penggunaan ragam bahasa erat kaitannya dengan kekuasaan, kedudukan, kedekatan/ keakraban, dan kontak antara penutur dan lawan bicara/ pendengar serta orang ketiga yang dibicarakan.

Prinsip tatakrama atau kesopanan berbahasa Sunda mempunyai beberapa maksim, yaitu:

1. Maksim Kawijaksanaan

Maksim kawijaksanaan menuntut pembicaraan dengan cara memperbanyak keuntungan atau mengurangi kerugian lawan bicara, dibentuk oleh pembicaraan komisif dan impositif.

Contohnya:

(1) Mun bisa, kuring rék nepungan ka imah Bapa. (Teu hormat)
(2) Upami tiasa, abdi badé nepangan ka bumi Bapa. (Hormat)

Kalimat (1) dan (2) artinya sama, yaitu ‘kalau bisa, saya akan menghadap ke rumah bapak’.

2. Maksim handap asor (merendah)

Maksim handap asor menuntut perkataan penutur untuk mengurangi penghormatan/ pujian terhadap dirinya, lebih banyak menghormat atau mengurangi bahasa loma atau kasar.

Maksim handap asor dibentuk oleh perkataan asertif dan ekspresif.

(3)  A:  Saurna, tuang putra téh juara olimpiadeu matematika? (Katanya, anak Anda juara olimpiade matematika?)

(4) B :  Ah, saur saha? Pun anak mah ngedul, tara ngapalkeun. (Ah, kata siapa? Anak saya malas, tidak suka menghafal).

3. Maksim Pangcocog

Maksim pangcocog menuntut perkataan penutur harus lebih cocok dengan pendengar dan kurangi perkataan yang tidak cocok.

Maksim pangcocog biasanya dibangun oleh perkataan asertif dan ekspresif.

(5) A :  Youtuber mah laloba duit, nya? (Youtuber itu banyak urang, ya?)

(6) B  :  Enya. (iya)

Perkataan yang tidak cocok dengan perkataan si A (5), contohnya:

(7) Ah, ceuk saha, geuning urang teu loba duit. (Ah, kata siapa, nyatanya saya tidak banyak urang).

4. Maksim katumarima

Maksim katumarima menuntut agar perkataan penutur mengurangi keuntungan untuk dirinya atau banyak mengurangi keinginan.

Maksim katumarima dibangun oleh perkataan komisif dan impositif.

Contona, omongan (45a) kurang hormat, sabalikna omongan (45b) leuwih hormat.

(8) Cing ulah gandéng baé, atuh! (jangan ribut terus, dong!)

(9). Aya saéna upami répéh supados nu nyarios di payun kadangu. (Sebaiknya diam agar yang bicara di depan kerengaran).

5. Maksim kasimpatian

Maksim kasimpatian menuntut penutur memperbanyak rasa simpati atau mengurangi antipati pada pendengar. Maksim kasimpati biasanya dibangun oleh perkataan asertif dan ekspresif.

(10) A:  Usaha téh kuring mah batan untung kalah buntung. (Usaha saya bukannya untung malah rugi).

(11) B :  Sabar wé. Lain milikna meureun. (Sabar saja. Mungkin belum rezekinya).

Contoh kalimat (11) menunjukkan rasa simpati terhadap contoh kalimat (10). Contoh perkataan yang kurang simpati atau antipati adalah:

(12) Tara sodakoh meureun didinya mah. (Mungkin kamu tidak pernah sedekah).

6. Maksim balabah

Maksim balabah menuntut perkataan penutur memperbanyak penghormatan atau pujian kepada pendengar atau mengurangi pujian terhadap dirinya.

Maksim balabah biasanya dibentuk oleh perkataan ekspresif dan asertif.

(13) A:  Saé pisan seratan téh, Kang.  (Tulisannya bagus sekali, bang)

(14) B:  Ah, seratan kieu disebut saé. (Ah, tulisan begini dibilang bagus)

(15) C: Saha heula atuh nu nyeratna, Kang Dadang. (Siapa dulu yang menulisnya, bang Dadang)

Kalimat (13) dan (15) memuji tulisan B. Sedangkan Kalimat (14) merendah atau mengurangi pujian terhadap dirinya.

Baca juga: Pemakaian Basa Sunda Lemes, Loma, dan Kasar dalam Percakapan Sehari-hari

Demikianlah, semoga bermanfaat.