Arti dan Contoh Siloka Sunda

Arti dan Contoh Siloka Sunda, Sastra Warisan Kolot Baheula

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Kata siloka ditulis dalam lirik lagu Manuk Dadali yang sangat populer di tatar Sunda. Siloka merupakan salah satu jenis sastra dalam bahasa Sunda.

Pengertian, makna, atau arti siloka Sunda adalah ungkapan kalimat atau pepatah yang isinya disembunyikan dalam kata-kata indah dan bermakna luas. Ngandung siloka berarti mengandung makna kiasan atau mengandung maksud tersembunyi.

Kolot Sunda baheula menyampaikan pepatah dengan rangkaian kata yang indah dan biasanya murwakanti. Isi pesan siloka Sunda ‘tersembunyi’ sehingga tidak bisa langsung dipahami oleh masyarakat awam, khususnya para penjajah pada waktu itu.

Pepatah Sunda kolot baheula dalam bentuk siloka sampai saat ini masih turun temurun dan masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat Sunda. Pada acara-acara penting seperti perpisahan atau paturay tineung, pernikahan, sungkeman, pupujian, dan sebagainya pepatah dengan siloka selalu dihadirkan.

Siloka Sunda biasanya dipakai dalam nasihat, babasan, paribasa, sajak, rumpaka kawih, renungan, dan bisa juga dipakai untuk mengungkapkan maksud tertentu.

Misalnya, seorang pemuda tertarik pada seorang perempuan. Ia ingin menanyakan pada orang lain, apakah gadis itu sudah punya kekasih atau belum, namun malu mengungkapkannya secara langsung. Kembang teh meni endah kabina-bina, tos diseuseup bangbara teu acan kitu nya? Artinya, bunga itu indah sekali, apakah sudah dihisap kumbang? Maksudnya gadis itu cantik sekali, apakah sudah punya kekasih atau belum?

Contoh Siloka dalam Percakapan Sunda

Dadang: “Jam sabaraha indit ti Garut, Kum? Tangian, wayah kieu geus nepi ka Bandung?”
Akum: “Tadi ba’da Subuh kobla seubeuh, Dang.”

Artinya:

Dadang: “Jam berapa berangkat dari Garut, Kum?” Datang lebih awal, jam segini sudah sampai di Bandung?
Akum: “Tadi setelah Subuh sebelum kenyang, Dang”.

Kalimat ba’da Subuh kobla seubeuh merupakan siloka “belum sempat sarapan”.

Contoh Siloka dalam Pupujian

Abdi sanés ahli surga, nanging henteu kiat nandangan naraka.

Maksudnya: saya manusia berdosa, tapi saya tetap ingin masuk surga.

Baca juga: 5 Lirik Pupujian Basa Sunda Jaman Baheula

Contoh Siloka dalam Rumpaka Kawih

Éling-éling mangka éling
Rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan baé
Raga taya pangawasa

Maksud atau artinya:

Kita harus sadar bahwa hidup di dunia tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah.

Contoh Siloka Sunda dalam Paribasa dan Babasan Pepatah

  • Ulah cara ka kembang malati kudu cara ka picung artinya ke istri harus sayang dan jangan cepat bosan.
  • Kudu nepi méméh indit artinya harus direncanakan/diperhitungkan secara matang sebelum memulai suatu pekerjaan.
  • Kudu caringcing pageuh kancing, saringset pageuh iket artinya harus siaga, waspada menghadapi segala kemungkinan.
  • Ulah laér gado artinya jangan suka meminta-minta makanan; jangan mudah tertarik dengan makanan orang lain.
  • Sing asak-asak nya ngéjo bisi tutung tambagana artinya harus dipikir lagi bolak-balik agar tidak menyesal akhirnya.
  • Ulah haripeut ku teuteureuyeun artinya jangan mudah tergiur iming-iming karena kita tidak tahu di dalamnya mengandung bahaya.
  • Ulah pupulur méméh mantun artinya jangan minta upah sebelum bekerja.
  • Ulah ridu ku tanduk artinya jangan merasa repot membawa sesuatu yang akan berguna.
  • Kudu nété tarajé nincak hambalan artinya harus tertib dan bertahap.
  • Ulah poho ditembah wadi artinya jangan lupa diri.

Baca juga:

25 Pepatah Sunda Kolot Baheula dan Artinya

90 Peribahasa Sunda tentang Nasihat Larangan Berbuat Salah

Demikianlah, semoga penjelasan di atas bermanfaat keur kuring jeung baraya sakumna!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *