Contoh gaya basa rautan atau majas eufimisme basa Sunda

10 Contoh Gaya Basa Rautan atau Majas Eufimisme Sunda

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Gaya basa rautan dalam bahasa Indonesia disebut juga majas atau gaya bahasa eufimisme.

Sebelum menjelaskan pengertian dan contoh contoh-contoh gaya basa rautan, izinkan saya menjelaskan sedikit tentang arti dan asal usul kata rautan dan eufimisme.

Kata rautan dalam bahasa Sunda termasuk kecap rundayan, asalnya dari kata raut ditambah akhiran -an. Raut artinya meraut, melicinkan, atau menghaluskan dengan pisau dan sebagainya.

Kata dasar ditambah dengan akhiran -an, menunjukkan hasil yang disebut oleh kata dasarnya. Rautan artinya hasil meraut, hasil menghaluskan, atau hasil melicinkan.

Kata eufemisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu “eu” (bagus) dan “phemoo” (berbicara). Eufemisme artinya berbicara dengan ungkapan yang baik dan sopan.

Menurut KBBI edisi III 2001, eufemisme merupakan ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, dianggap dapat merugikan atau tidak menyenangkan.

Arti gaya basa rautan atau gaya bahasa eufimisme

Pengertian majas rautan atau eufimisme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk memperhalus kata-kata yang dianggap tabu, kurang sopan, kasar, menyinggung, atau merugikan.

Gaya bahasa rautan atau eufimisme digunakan untuk mengganti kata-kata yang tidak berkenan dengan kata-kata yang lebih halus. Dengan begitu, komunikasi menjadi lebih nyaman dan memberi kesan sopan.

Contoh kalimat gaya basa rautan atau eufimisme

  1. Punten badé ngiring ka pengker. Permisi, mau numpang ke kamar kecil. Pengker atau kamar kecil dalam kalimat ini berarti tempat kencing.
  2. Dupi ka pengker ka palih mana? Kalau kamar kecil sebelah mana?
  3. Abdi mah rumaos jalmi teu gaduh. Saya merasa diri sebagai orang tidak punya. Frasa teu gaduh atau tidak punya mengganti kata miskin.
  4. Pun aki mah tos sepuh janten tos kirang dangu. Kakek saya sudah tua jadi sudah kurang mendengar. Kirang dangu menggantikan kata torek.
  5. Bakat tos sepuh mah sagala karaos. Biasa kalau sudah tua segala terasa (sakit-sakitan).
  6. Pangambung abdi mah kirang mancung. Hidung saya kurang mancung (demés).
  7. Bumi pun bapak mah kirang ageung. Rumah bapak saya kurang besar (kecil, sempit).
  8. Hawatos mang Kabayan nuju teu damang emutan. Kasihan mang Kabayan sedang sakit jiwa.
  9. Nini mah tos teu teurak neda kurupuk. Nenek sudah tidak kuat makan kerupuk (pohang).
  10. Motor téh bentukna kirang saé. Motor itu bentuknya kurang bagus (butut).

Baca juga: 10 Contoh gaya basa ocon atau majas metonimia

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *