Morfologi Bahasa Sunda

Mengenal Tata Kecap atau Morfologi Basa Sunda

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Morfologi dalam bahasa Sunda disebut juga tata kecap. Tata = aturan; kidah dan kecap = kata (ucap, omongan). Morfologi basa Sunda nyaeta aturan atawa kaédah ngawangun kecap.

Morfologi atau tata kecap merupakan salah satu bagian dari tata basa. Kata morfologi sendiri merupakan istilah dalam bahasa Indonesia sebagai kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu morphology.

Kata morfologi asalnya dari bahasa Yunani, morpho = bentuk, logos = ilmu. Jadi, pengertian morfologi basa Sunda adalah ilmu yang mempelajari struktur kata-kata bahasa Sunda dan segala unsur pembentuknya.

1. Morfem dan Kecap (Kata)

Kecap merupakan bagian terkecil dari kalimat yang sifatnya bebas dan memilki arti yang sudah tentu.

Kata dibangun oleh unsur-unsur morfem. Yang dimaksud dengan morfem adalah bentuk kata terkecil yang bermakna.

Dilihat dari bentuknya morfem terbagi menjadi dua macam, yaitu morfem dasar dan morfem rarangkén (imbuhan). Contoh morfem dasar = indit, balik, dahar, seuri, taék, ablu, abrug, dan sebagainya. Contoh morfem imbuhan = n-, ng-, ka-, dan sebagainya.

Dilihat dari kemandirian katanya, morfem dibedakan menjadi morfem bebas dan morfem kauger (terikat).

Morfem bebas adalah morfem yang bisa berdiri sendiri dalam kalimat atau morfem yang bisa langsung jadi kata. Yang menjadi morfem bebas hanyalah kata dasar, sehingga morfem bebas sering disebut kecap asal (kata dasar) tapi tidak semua kata dasar bisa langsung jadi kata.

Morfem bebas contohnya: indit, balik, dahar, seuri, dan sebagainya. Kata-kata tersebut bisa berdiri sendiri tanpa ditambah morfem lainnya. Kecap atau kata yang dibangun oleh satu unsur morfem disebut kecap salancar.

Contoh kalimat: Husni ‘indit’ ka Garut (Husni berangkat ke Garut).

Morfem terikat terdiri atas morfem rarangkén (imbuhan), pangdeudeul (proleksem) dan morfem dasar.

Contoh morfem terikat: ng-, n-, taek, ablu, abrug, ador dan sebagainya. Imbuhan dan kata-kata tersebut tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus digabung dengan morfem lain. Kecap yang dibangun oleh dua morfem atau lebih disebut kecap rékaan.

Contoh kecap rékaan hasil gabungan dari beberapa morfem terikat:

  • taék → naék, naékan, naékeun, tataékan
  • ablu → ngablu, ablu-abluan, ubla-ablu
  • abrug → abrug-abrugan
  • ador → ngador; ador-adoran

Contoh kalimatnya: Husni taék kana tangkal kalapa (tidak bisa), seharusnya Husni naék kana tangkal kalapa.

Setiap gabungan morfem akan membentuk kecap rékaan yang memiliki arti baru.

Contohnya:

  • Indit → arindit (‘pergi’ untuk subjek jamak), indit-inditan (bepergian), inditkeun (dalam proses berangkat; di perjalanan berangkat), nginditan (menghadiri).
  • Taék → naék (naik), naékan (menaiki), naékeun (menaikan; meningkatkan), tataékan (naik sekadar main-main tanpa tujuan yang jelas).

2. Pangwuwuh Kecap

Dalam membentuk kata ada unsur-unsur yang ditambahkan pada kata, yaitu sebagai berikut:

2.1. Afiks

Afiks atau imbuhan dalam basa Sunda disebut rarangkén. Afiks yaitu morfem kauger (terikat) yang menempel pada kata dan memiliki arti gramatikal.

Rarangkén terbagi atas lima macam, yaitu rarangkén hareup (awalan/ prefiks), rarangkén tengah (sisipan/ infiks), rarangkén tukang (akhiran/ sufiks), rarangken barung (konfiks), dan rarangkén gabungan (ambifiks).

Contoh:

  • Awalan m- + baca → maca: membaca
  • Sisipan -ar- + baca → baraca: bacalah (jamak)
  • Baca + akhiran -keun → bacakeun: bacakan
  • Awalan m- + baca + akhiran -keun → macakeun: membacakan

2.2. Proleksem

Proleksem adalah morfem terikat yang menempel pada kata dan mengandung arti leksikal. Proleksem terbagi atas tiga macam, yaitu panyebut, panglaku, dan pangwilang.

Contoh:

  • Proleksem panyebut: wan → wartawan, wati → seniwati, dan sebagainya.
  • Proleksem panglaku: barang → barangbeuli, silih → silihasih, dan sebagainya.
  • Proleksem pangwilang: tri → tridarma, panca → pancasila, dan sebagainya.

2.3. Formatif

Formatif atawa pamaseuk merupakan morfem terikat beruba suku kata yang dimasukkan ke dalam jangkar kata atau kecap panganteur.

Contohnya:

  • Ha + bek → habek
  • Be + cir → becir
  • Be + re + wék → berewék

2.4. Klitik

Klitik atau sénggéh merupakan morfem terikat yang ditambahkan pada kata, sudah memiliki arti leksikal. Klitik biasanya menjadi kata ganti milik, berpasangan dengan kata ganti.

Klitik yang ditempatkan di depan disebut proklitik dan yang ditempatkan di belakang disebut enklitik.

  • Contoh proklitik: pun bojo, pun anak, tuang rama, tuang raka, dan sebagainya.
  • Contoh enklitik (na): ramana, ibuna, lanceukna, dan sebagainya.

3 Wangun Kecap (bentuk kata)

Bentuk-bentuk kata dalam basa Sunda antara lain sebagai berikut:

3.1. Kecap Salancar

Kecap salancar adalah kata yang dibangun oleh satu morfem dasar bebas. Jumlah engang (suku kata) kecap salancar bermacam-macam. Contohnya sebagai berikut:

  • Satu suku kata: dug, jrut, am.
  • Dua suku kata: baju, imah, dahar.
  • Tiga suku kata: lalaki, balangah, purunyus.
  • Empat suku kata:
  • Lima suku kata: bolokotondo.

3.2. Kecap Rundayan

Kecap rundayan adalah kata turunan atau kata yang dibangun dengan cara menambahkan imbukan ke morfem dasar.

Silakan baca: Contoh Kecap Rundayan

3.3. Kecap Rajékan

Kecap rajekan atau kata ulang adalah kata yang dibangun dengan cara mengulang dua kali atau lebih morfem dasarnya.

Macam-macam kata ulang dalam basa Sunda:

  • Kata ulang dwipurwa
  • Kata ulang dwimadya
  • Kata ulang Dwilingga (Dwimurni dan Dwireka)
  • Kata ulang Trilingga

Silakan baca: Jenis dan Contoh Kecap Rajekan Lengkap

3.4. Kecap Kantétan

Kecap kantetan adalah kata yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua bentuk dasar, baik akar dengan akar maupun kata dengan kata, atau campuran keduanya serta mengandung satu arti mandiri.

Contoh kecap kantetan:

Kecap kantetan banyak digunakan dalam babasan atau ungkapan.

Baca juga: 444 Babasan Sunda dan Artinya

3.5. Kecap Wancahan

Kecap wancahan adalah kata yang dibentuk dengan cara memendekan atau menyingkat kata. Contohnya TVRI (Televisi Republik Indonesia), Jabar (Jawa Barat), anaking (anak aing), cekéng (ceuk aing), dan sebagainya.

Baca juga: Contoh Kecap Wancahan

4 Warna Kecap (Kelas Kata)

Warna kecap merupakan bagian dari kalimah atau unsur sintaksis terkecil. Berdasarkan kelasnya, kata dibedakan menjadi 9 macam. Yaitu:

4.1. Kecap Barang (Nomina)

Kecap barang atau nomina adalah kata yang menunjukkan nama benda atau yang dianggap benda, seperti manusia, hewan, tumbuhan, barang, tempat, dan hal.

Contohnya: kandang, imah, kebon, gunung, jalma, munding, sendok, dan sebagainya.

4.2. Kecap Pagawean (Verba)

Secara semantis, kecap pagawean, kata kerja atau verba mengandung makna keadaan, proses, dan aktivitas. Kata kerja yang mengandung arti aktivitas bisa dijadikan kata perintah dengan menambahkan tanda seru (!). Kecap pagawean juga bisa diawali dengan kata negatif teu; henteu.

Contoh kecap pagawean: dahar, indit, lumpat, diuk, dan sebagainya:

Baca juga: Contoh Kata Kerja (Verba) Bahasa Sunda

4.3. Kecap Sipat (Adjektiva)

Kecap sipat, kata sifat atau adjektiva umumnya memiliki arti bawaan sifat atau kualitas.

Baca juga:

Contoh Kata Sifat Bahasa Sunda

Cara Membedakan Kata Kerja dan Kata Sifat Bahasa Sunda

4.4. Kecap Bilangan (Numeralia)

Kecap bilangan atau numeralia adalah kata yang menunjukkan jumlah, urutan, dan tahapan dari barang.

Contoh kecap bilangan: hiji, dua, tilu, opat, dan seterusnya.

Baca juga: Kosakata Angka dalam Bahasa Sunda

4.5. Kecap Pancen (Partikel)

Kecap pancén atau partikel adalah kata yang berfungsi untuk menjelaskan kalimat dan bagiannya. Contohnya: sihoreng, samemeh, kalawan, sajeroning, dan sebagainya.

4.6. Kecap Panambah (Adverbia)

Kecap panambah adalah kecap pancén yang umumnya jadi penambah unsur pusat dalam bentuk frasa atributif dan ada juga yang menjadi keterangan klausa. Contoh: rék dahar, hayang kénéh.

4.7. Kecap Panyambung (Konjungsi)

Kecap panyambung adalah kata yang berfungsi menyambungkan kata, frasa, dan klausa dalam kalimat.

Contoh:

  • Ujang meuli buku jeung
  • Basa Ujang meuli buku, nu boga warung sare keneh.
  • Boh Ujang boh nu boga warung sarua resep sare.

Baca juga: Kecap Panyambung (Konjungsi) Bahasa Sunda

4.8. Kecap Pangantet (Preposisi)

Kecap pangantét  adalah kecap pancén  yang gunanya untuk menggabungkan predikat pada keteranga, biasanya ditempatkan di depan nomina (kecap barang).

Contoh:

  • Di Garut
  • Dina (jero) mobil

Baca juga: Fungsi dan Contoh Kata Depan (Preposisi) Bahasa Sunda

4.9. Kecap Panyeluk (Interjeksi)

Kecap panyeluk atau interjéksi adalah kecap pancén yang gunanya untuk menunjukkan perasaan penuturnya. Kecap panyeluk dipisahkan oleh koma (,) dengan bagian lain dalam kalimat namun tidak ada hubungannya.

Contoh:

  • Ey, meni butut kitu.
  • Ih, tong kitu atuh.
  • Aduh, huntu ngajedud.

Demikianlah pengenalan singkat morfologi bahasa Sunda. Penjelasan dan contoh-contoh kata pada artikel ini masih terbatas. Silakan ikuti tautan-tautan penjelas yang tersedia di dalam artikel ini untuk mendapat penjelasan lebih lengkap. Jika belum ada tautan yang menjelaskan lebih lanjut, maka akan dibahas pada postingan berikutnya.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *