Asimilasi huruf B, D, G, J dalam Bahasa Sunda

Pengertian dan Contoh Asimilasi dalam Bahasa Sunda

186 Dilihat

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Pengucapan kata-kata tertentu, baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia suka ada fonem yang seolah-oleh dihilangkan atau berubah bunyi menjadi huruf lain yang suaranya mirip.

Dalam bahasa Sunda contohnya Bandung dibaca Banung, tambah dibaca tamah, dan sebagainya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia contohnya sabtu ada yang membaca saptu.

Perubahan bunyi atau suara kata-kata tadi disebut asimilasi.

Pengertian Asimilasi

Dalam tatabasa Sunda dikenal istilah rinéka sora, yang artinya gejala fonologis terkait perubahan suara basa, baik suara vokal maupun konsonan. rinéka sora sendiri terdiri atas beberapa macam, salah duanya adalah asimilasi dan sirnaan.

Asimilasi adalah rinéka sora yang dibentuk dengan cara menyamakan fonem yang berbeda terhadap fonem di belakangnya.

Huruf yang termasuk asimilasi dalam bahasa Sunda di antaranya /b/ dan /m/, /d/ dan /n/, serta /g/ dan /ng/. Ada juga konsonan yang dianggap mirip, yakni suara /j/ berubah menjadi /ny/.

Contoh Asimilasi dalam Bahasa Sunda

PenulisanPelafalanArtinya
gembulgemullahap
tambahtamahtamah
gambargamargambar
lambutlamutperut
pangambungpangamunghidung
kembarkemarkembar
indunginungibu
nyandungnyanungberistri lebih dari satu
endogenogtelur
nyarandényaranébersandar
randaranajanda
kararanggékararangésemut rangrang
manggamangasilakan
kanggokangountuk
anggoangopakai
sanggupsangupsanggup

Baca juga: 4 Huruf yang Jarang Disebut (Hilang) dalam Bahasa Sunda

Perubahan suara ketika mengucapkan kata-kata pada contoh di atas tidak mutlak atau bukan suatu keharusan. Ada juga yang huruf-hurufnya disebut dengan jelas seperti mimbar, ganggu, dan sebagainya.

Pengucapan kata dengan asimilasi tidak mengubah arti kata, yang penting penulisannya harus sesuai ejaan. Misalnya Bandung, tidak masalah dibaca ‘banung’ (bunyi huruf U bulat/gembleng), tetapi penulisannya harus tetap Bandung.

Demikianlah, semoga bermanfaat.