Struktur Wawacan dan Contohnya

Struktur Wawacan dan Contohnya

13 Dilihat

SUNDAPEDIA.COM, Sampurasun! Wawacan adalah cerita panjang yang didangding (ditembangkan), dan ditulis dalam bentuk pupuh. Suasana cerita dalam wawacan itu berbeda-beda, berupa lalakon (lakon), jenis pupuhnya pun banyak dan gonta ganti.

Pada postingan sebelumnya sudah dijelaskan mengenai pengertian wawacan, ciri-ciri, dan bedanya dengan guguritan. Bagi yang belum membacanya, silakan baca Pengertian Wawacan dalam Sastra Sunda.

Wawacan dipengaruhi oleh sastra Jawa, masuk ke dalam sastra Sunda sekitar abad ke-19 ketika tatar Sunda dikuasai Mataram (Islam).

Tahap Pertumbuhan Wawacan di Tatar Sunda

Tumbuhnya wawacan di Sunda melalui beberapa tahap, antara lain:

  • Tahap pertama, naskah lakon cerita wawacan dari sastra Jawa langsung disalin, tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda.
  • Tahap kedua, sudah mulai ada upaya menterjemahkan ke dalam bahasa Sunda agar isinya dapat dipahami oleh masyarakat Sunda.
  • Tahap ketiga, menciptakan cerita-cerita yang sudah ada sejak zaman dahulu. Seperti dari dongeng, hikayat, dan babad.
  • Tahap keempat, naskah-naskah dicetak dan diterbitkan menjadi buku.

Struktur Wawacan

Karya sastra wawacan biasanya mempunyai unsur struktur yang sudah tetap.

1. Manggalasastra (alofon)

Manggalasastra atau alofon bisa dikatakan sebagai pembuka. Isinya adalah sanduk-sanduk papalaku (minta izin) kepada Yang Maha Kuasa dan ke karuhun. Selain berisi sanduk-sanduk, manggalasastra juga berisi permintaan maaf atas kelemahan/kekurangan penulis atau penyusun wawacan.

Contoh Manggalasastra atau Alofon  (Wawacan Rengganis):

Kasmaran kaula muji,

Ka Gusti Ajawajala,

Nu murah ka mahluk kabéh,

Jeung muji utusanana,

Kangjeng Nabi Muhammad,

Nyaéta Nabi panutup,

Miwah muji sahabatna

2. Eusi

Eusi atau isi yaitu cerita dari wawacan itu sendiri. Silakan perhatikan contohnya pada penggalan wawacan Panji Wulung yang menggunakan jenis pupuh Kinanti di bawah ini.

Laju lampah Panji Wulung,

diiring ku Jayapati,

Ki Jenggali Ki Jenggala,

jeung baturna Jayapati,

ngaran Ki Kebo Manggara,

kalima Kebo Rarangin

3. Kolofon (panutup)

Kolofon atau penutup berada pada akhir cerita. Isi kolofon yaitu titimangsa ditulis atau disalinnya wawacan tersebut, permintaan maaf penulis atas segala kekurangannya. Biasanya penulis wawacan suka merendah (rendah hati).

Contoh Kolofon dari Wawacan Panji Wulung:

Tamatna kaula ngarang

Pukul tujuh malem Kemis

Di tanggal tujuh welasna

Kaleresan bulan April

Taun Kangjeng Maséhi,

Saréwu dalapan ratus

Jeung genep puluh dua

Marengan hijahna Nabi

Saréwu dua ratus tujuh puluh dalapan

Jika kolofon di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih seperti ini:

Tamatnya saya mengarang

Pukul tujuh (19.00) malam Kamis

Pada tanggal tujuh belasnya

Kebetulan bulan April

Tahun Masehi

Seribu delapan ratus

Dan enam puluh dua

Bersamaan dengan hirahnya Nabi

Seribu dua ratus tujuh puluh dalapan

Kesimpulan

Berikut ini tabel struktur wawacan beserta isinya.

Manggalasastra (Alofon) Sanduk-sanduk kanu Maha Kawasa jeung ka karuhun (minta izin)
Menta pangampura tina kahengkerean anu nulis/nyusun wawacan (minta maaf)
Eusi Isi cerita
Penutup (Kolofon) Titimangsa (tempat, tanggal penulisan/disalinnya)
Permintaan maaf penulis

Demikianlah, semoga bermanfaat.